Bersemangatlah, Jangan Hanya Bersandar Pada Takdir
Antara Qodho’ dan Qodar
Dalam pembahasan takdir, kita sering mendengar istilah qodho’ dan qodar. Dua istilah yang serupa tapi tak sama. Mempunyai makna yang sama jika disebut salah satunya, namun memiliki makna yang berbeda tatkala disebutkan bersamaan. Jika disebutkan qodho’ saja maka mencakup makna qodar, demikian pula sebaliknya. Namun jika disebutkan bersamaan, maka qodho’ maknanya adalah sesuatu yang telah ditetapkan Allah pada makhluk-Nya, baik berupa penciptaan, peniadaan, maupun perubahan terhadap sesuatu. Sedangkan qodar maknanya adalah sesuatu yang telah ditentukan Allah sejak zaman azali. Dengan demikian qodar ada lebih dulu kemudian disusul dengan qodho’.
Empat Prinsip Keimanan kepada Takdir
Pembaca yang semoga dirahmati oleh Allah. Perlu kita ketahui bahwa
keimanan terhadap takdir harus mencakup empat prinsip. Keempat prinsip ini
harus diimani oleh setiap muslim. Aqiqah Karawang
Pertama: Mengimani bahwa Allah Ta’ala mengetahui
dengan ilmunya yang azali dan abadi tentang segala sesuatu
yang terjadi baik perkara yang kecil maupun yang besar, yang nyata maupun yang
tersembunyi, baik itu perbuatan yang dilakukan oleh Allah maupun perbuatan
makhluknya. Semuanya terjadi dalam pengilmuan Allah Ta’ala.
Kedua: Mengimanai bahwa Allah Ta’ala telah menulis dalam lauhul
mahfudz catatan takdir segala sesuatu sampai hari kiamat. Tidak ada
sesuatupun yang sudah terjadi maupun yang akan terjadi kecuali telah tercatat.
Ketiga: Mengimani bahwa kehendak Allah meliputi
segala sesuatu, baik yang terjadi maupun yang tidak terjadi, baik perkara besar
maupun kecil, baik yang tampak maupun yang tersembunyi, baik yang terjadi di
langit maupun di bumi. Semuanya terjadi atas kehendak Allah Ta’ala,
baik itu perbuatan Allah sendiri maupun perbuatan makhluknya.
Keempat: Mengimani dengan penciptaan Allah.
Allah Ta’ala menciptakan segala sesuatu baik yang besar maupun
kecil, yang nyata dan tersembunyi. Ciptaan Allah mencakup segala sesuatu dari
bagian makhluk beserta sifat-sifatnya. Perkataan dan perbuatan makhluk pun
termasuk ciptaan Allah.
Dalil kedua prinsip di atas adalah firman Allah Ta’ala,
اللهُ خَالِقُ كُلِّ شَىْءٍ وَهُوَ عَلَى
كُلِّ شَىْءٍ وَكِيلٌ {62} لَّهُ مَقَالِيدُ السَّمَاوَاتِ وَاْلأَرْضِ
وَالَّذِينَ كَفَرُوا بِئَايَاتِ اللهِ أُوْلَئِكَ هُمُ الْخَاسِرُونَ {63}
“.Allah menciptakan segala sesuatu dan Dia memelihara segala sesuatu.
Kepunyaan-Nyalah kunci-kunci (perbendaharaan) langit dan bumi. Dan orang-orang
yang kafir terhadap ayat-ayat Allah, mereka itulah orang-orang yang merugi.”(QS.
Az Zumar 62-63)
Antara Kehendak Makhluk dan Kehendak-Nya
Beriman dengan benar terhadap takdir bukan berarti meniadakan kehendak
dan kemampuan manusia untuk berbuat. Hal ini karena dalil syariat dan realita
yang ada menunjukkan bahwa manusia masih memiliki kehendak untuk melakukan
sesuatu. Aqiqah Karawang
Takdir Baik dan Takdir Buruk
Namun yang
perlu diperhatikan, bahwa hasil takdir yang buruk terkadang di satu sisi buruk,
akan tetapi mengandung kebaikan di sisi yang lain. Allah Ta’ala berfirman
:
ظَهَرَ
الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ
لِيُذِيقَهُم بَعْضَ الَّذِي عَمِلُوا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ {41}
“Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena
perbuatan tangan manusia, supay Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari
(akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar)” (QS.
Ar Ruum:41). Kerusakan yang terjadi pada akhirnya menimbulkan kebaikan. Oleh
karena itu, keburukan yang terjadi dalam takdir bukanlah keburukan yang hakiki,
karena terkadang akan menimbulkan hasil akhir berupa kebaikan.
Bersemangatlah, Jangan Hanya Bersandar Pada Takdir


Komentar
Posting Komentar